Selasa, 14 Februari 2017

Diskusi Peran Pemuda Islam Hadapi Digital dan Mencetak Muslim Cyber Army

The Rise Youth Intelegent (TRYI), wadah organisasi santri menggelar diskusi bertema “Peran Pemuda Islam Menghadapi Era Teknologi Digital” di Hotel Aziza, jalan Kapten Mulyadi 115, Pasar Kliwon, Solo, Ahad (12/2/2017).
Syahid Insan Nurahman, ketua panitia mengatakan maksud digelarnya acara tersebut sebagai pengenalan dan untuk membentuk pasukan cyber army. Teknologi digital yang berkembang pesat dan semakin canggih menuntut pemuda Islam lebih aktif dan tidak gaptek.
“Sebenarnya ini pengenalan teknologi anak-anak santri untuk menuju sebuah cyber army. Tapi ini kita buka untuk umum, kemarin kan mulai adu cyber antara muslim dan non muslim, nah tujuan untuk itu sebenarnya,” ujarnya pada Panjimas.com.
Acara yang diikuti sekitar 130 orang ini, mengundang Prof Dr Ing Fahmi Amhar, profesor pertama dan termuda bidang Geospasial di Indonesia. Prof Fahmi mengatakan bahwa Negeri Malaysia merupakan negeri yang Islami yang menyambut era digital. Sementara negeri Islam lainnya masih belum menerapkannya semisal Indonesia sendiri.
“Nah jadi negeri Islam yang lain itu ibarat seperti buih, tidak punya kualitas maka umat Islam tanpa sains dan teknologi akan terjajah,” katanya.
Menurutnya, umat Islam masih terjebak pada paradigma keilmuan seperti sains menjadi bagian ajaran sekular dan saintifikasi Islam membuat kerancuan dan membingungkan. Prof Fahmi juga menjelaskan Islamisasi sains sudah banyak beredar ditambah sains ta’wili pun demikian.
“Hingga ada buku yang mengeluarkan The Science of Shalat, shalat itu di cek apakah akan merubah kadar gula darah, kolesterol dan yang lainnya. Hingga dibandingkan dengan yoga, yoga itu bisa mengurangi kadar gula darah, nah semacam itu terus disimpulkan berarti shalat sama dengan yoga,” ujarnya.
Peran pemuda Islam saat ini dalam menelurkan software-software Islami sudah sangat banyak. Diharapkan peran pemuda Islam menyambut perang di era digital saat ini.
“Contoh sekarang ada Qur’an digital itu, sekarang lagi ada kalimat jangan menebar kebencian. Kita cari kata benci dalam quran itu langsung muncul surat apa ayat berapa. Oh jadi benci itu boleh, benci pada koruptor, benci pada kebodohan itu boleh. Yang tak boleh itu benci pada ulama, benci pada Islam,” ucapnya. [SY]

Sabtu, 11 Februari 2017

Facebook dan Google perang melawan berita bohong

Dua raksasa internet Facebook dan Google bergabung bersama dengan organisasi-organisasi berita untuk meluncurkan tool baru pemeriksa keaslian berita yang dirancang untuk mencabut berita-berita bohong di Prancis menjelang pemilihan presiden di negeri ini.

Jejaring sosial dan agregator berita dikritik keras selama Pemilu Amerika Serikat karena mereka jelas secara tidak sengaja ikut menyebarkan berita-berita bohong.

Facebook menyatakan akan bekerja sama dengan delapan organisasi berita Prancis, termasuk kantor berita Agence France-Presse (AFP), saluran berita BFM TV, dan koran L'Express serta Le Monde, untuk meminimalkan risiko berita bohong yang muncul dalam platform mereka.

Facebook, jejaring sosial terbesar di dunia, memiliki 24 juta pengguna di Prancis, atau sepertiga dari total penduduk Prancis.

Facebook akan menggantungkan kepada peran pengguna dalam membenderai (flag) berita bohong pada jejaring sosial ini sehingga artikel-artikel berita bisa dicek ulang kebenarannya oleh organisasi-organisasi berita yang menjadi mitra Facebook.

Setiap berita yang dianggap bohong oleh dua dari mitra Facebook akan ditandai oleh sebuah ikon yang menunjukkan konten berita itu bermasalah, kata Facebook.

Facebook juga mendukung prakarsa terpisah yang diluncurkan Google lewat "CrossCheck" yang menyeru para pengguna mengirimkan tautan-tautan (link) untuk konten yang diragukan kebenarannya kepada situs-situs berita terpercaya sehingga konten itu bisa diinvestigasi.

17 newsroom Prancis bergabung dalam proyek itu, termasuk AFP dan stasiun televisi nasional Prancis milik pemerintah.

Facebook juga mengambil langkah dalam melawan berita bohong di Jerman di mana pemerintah negara ini mengutarakan kekhawatirannya atas berita palsu dan ujaran kebencian yang mempengaruhi Pemilu September mendartang di mana Kanselir Angela Merkel berusaha memangku jabatan untuk masa jabatan keempat kalinya.

Di AS, Facebook sudah bekerja dengan situs pemeriksa kebenaran berita Snopes, ABC News dan kantor berita Associated Press untuk memeriksa keaslian berita, demikian Reuters.

Ridwan Kamil kebangkitan Islam saat pemuda penuhi masjid

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan kebangkitan Islam ketika para pemuda berbondong-bondong memenuhi masjid untuk solat shubuh berjamaah.

"Terutama pemuda di Bandung harus mempunyai semangat untuk tunaikan semangat berjamaah di masjid" kata Ridwan Kamil dalam siaran persnya, usai solat shubuh berjamaah di Masjid Besar Ujung Berung,  Bandung, Minggu.


Pria yang akrab disapa Kang Emil ini menyebut subuh merupakan salah satu waktu optimal untuk menyampaikan pesan karena menurutnya ketika subuh otak manusia belum termanipulasi oleh hal-hal negatif.

"(Shubuh) Fokus untuk menerima pesan ketimbang siang hari karena setelah siang otak kita akan terbagi fokus sesuai dengan kegiatan kita masing masing" kata dia.

Kepada jamaah, Emil menjelaskan segala perbuatan yang dilakukan seseorang harus berdasarkan niat yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

"Segala sesuatu berdasarkan niat, hidup itu perjuangan segala sesuatu harus berdasarkan ibadah," kata dia.

Ia pun berpesan kepada jamaah yang hadir di masjid tersebut agar senantiasa bermanfaat bagi manusia lainnya atau minimal dapat menyenangkankan bagi manusia lainnya.

"Sebaiknya-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, kehadirannya dirindukan, kedatangannya dinantikan" kata Emil.
Editor: Unggul Tri Ratomo

Enam Mitos Tentang Intelijen Keamanan Nasional Amerika



Sehari setelah disumpah jabatan, Donald Trump kembali berbicara di markas CIA. Pidato Trump tersebut dilihat sebagai upaya untuk memperbaiki hubungannya dengan dinas intelijen. Hubungan keduanya sempat memburuk akibat sikap dan pernyataan Trump sebelumnya yang skeptis terhadap hasil penilaian intelijen terkait aksi peretasan yang diduga dilakukan Rusia terhadap surat-surat elektronik Komite Nasional Demokrat dan kampanye kandidat presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Sikap skeptis itu ditunjukkan oleh Trump bersama sejumlah ahli di bidang keamanan yang menyatakan keraguan mereka mengenai rumitnya hubungan antara isu serangan siber dengan akurasi sumber-sumber intelijen. Sikap skeptis itu nampaknya semakin diperparah oleh bukti-bukti yang tak terelakkan mengenai campur tangan Rusia pada pemilu yang lalu.

Di universitas dan lembaga-lembaga akademis lain diajarkan bagaimana komunitas intelijen mengumpulkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi sensitif kepada para pembuat kebijakan dan pejabat-pejabat yang terpilih.

Berikut adalah beberapa hal yang secara salah dipahami mengenahi aktifitas-aktifitas intelijen, yang bukan hanya dipertontonkan oleh presiden Donald Trump, tetapi juga oleh laporan-laporan media terkait intervensi Rusia terhadap pilpres 2016 yang lalu.

Koreksi atau sikap yang benar terhadap mitos-mitos tersebut penting dilakukan karena publik sudah terlanjur menaruh harapan yang tidak realistis terhadap produk-produk dan analisa intelijen. Harapan yang salah ini bisa merusak kredibilitas komunitas intelijen itu sendiri, dan akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam menyelesaikan setiap misi.

Mitos 1: Data Intelijen dan Bukti Pengadilan adalah Sama

Data intelijen dan bukti (pengadilan) itu sama sekali berbeda. Para analis intelijen bekerja dengan memahami situasi dari multi aspek, lalu membuat penilaian tentang situasi tersebut dan menginformasikannya kepada para pembuat keputusan.

Di sisi lain, para investigator penegak hukum mencari bukti-bukti yang diperlukan untuk memenuhi standar legalitas beban pembuktian (onus probandi). Di ruang pengadilan, bukti-bukti langsung sebuah kejahatan, seperti: DNA, sidik jari, dan kesaksian/pengakuan para saksi, merupakan bukti yang terbaik.

Di kalangan komunitas intelijen, para analis terkadang harus bersinggungan dengan dinas intelijen asing, bahkan dengan kelompok-kelompok “teroris” yang memiliki kemampuan menggunakan sarana-sarana kontra-intelijen negara dan mampu melakukan kampanye penyesatan untuk mengelabuhi pejabat-pejabat intelijen AS, sehingga pada akhirnya akan menciptakan situasi ketidakpastian.

Menjadi tidak realistis apabila kita terlalu berharap dinas intelijen akan selalu didukung oleh “bukti-bukti yang sudah teruji kebenarannya” dalam melakukan penilaian. Alasan lain mengapa banyak orang begitu skeptis dengan intelijen karena minimnya penjelasan atau keterangan yang bisa diterima tentang bagaimana para analis itu membuat berbagai kesimpulan.

Sebagai contoh, Kantor Direktur Intelijen Nasional pernah mengungkap ke publik sebuah laporan mengenahi peran Rusia dalam mempengaruhi pemilu di AS pada awal Januari lalu. Merespon hal itu, Robert Graham, seorang analis sebuah perusahaan di bidang keamanan siber, mengatakan kepada Wired, “Melihat jenis data apa yang mungkin mereka miliki, seharusnya mereka bisa memberikan lebih banyak lagi detilnya. Dan mereka benar-benar membuat saya kesal.” Respon senada juga diungkap oleh Susan Hennessey, seorang anggota Brookings Institution melalui Twitter.

Tetapi berbagai kritikan tersebut tidak benar. Teknik yang dipakai oleh berbagai dinas intelijen harus tetap dirahasiakan untuk menghindari terbongkarnya metoda dan daya analisa dinas intelijen oleh musuh.

Diminta Segera Revolusi, Ini Jawaban Petinggi GNPF MUI



Jakarta – Dalam tabligh akbar di Bima, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu, kaum muslimin meminta Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) Ustadz Bachtiar Nasir untuk segera melakukan aksi revolusi.

“Waktu saya di Bima, mereka semua minta segera revolusi, padahal kondisi mereka sedang dalam keadaan susah (karena dilanda banjir, red). Lumpur-lumpur masih banyak,” cerita Ustadz Bachtiar dalam tausiahnya di Masjid Istiqlal saat aksi 112, Sabtu, (11/02).

Tapi yang terpenting, lanjut Bachtiar, yang harus direvolusi adalah cara pandang kaum muslimin untuk lebih menghayati kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah.

“Kalimat tauhid itu jika dibenarkan dalam hati dan selalu direalisasikan dalam kehidupan kita. Jika itu dilakukan, maka kita tidak akan merasakan ketakutan selain kepada Allah SWT. itulah salah satu hadiah dari ketakwaan,” ungkap dai alumnus Madinah ini.

Pimpinan AQL Islamic Center ini menguraikan, karena ketakwaan itulah, Allah SWT akan bertindak langsung sebagai pelindung umat, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Ustadz Bachtiar Nasir juga menyinggung peran ulama dan umat Islam yang senantiasa konsisten menjaga persatuan. Ia menyebut sejumlah tokoh ulama dan Muslim yang berperan dalam proses kemerdekaan bangsa Indonesia. Di antaranya ialah KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Noer Alie, Bung Karno dan Bung Hatta yang merupakan seorang Muslim.


Pantauan Kiblat.net di lapangan, jutaan kaum muslimin berbondong-bondong penuhi Masjid Istiqlal sejak Jumat malam. Mereka dengan tertib mengikuti rangkaian acara sejak shalat shubuh, berzikir dan mendengarkan tausiah dari para ulama dan habaib.





Reporter: Muhammad Jundi
Editor: Fajar Shadiq

Hadiri Aksi 112, Wakil Ketua MPR RI: Tidak Ada Manfaatnya Mengkriminalisasi Ulama



Jakarta- Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid turut hadir dalam aksi 112 di Masjid Istiqlal. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa tidak ada manfaatnya mengkriminalisasi ulama.

“Sesungguhnya tidak ada manfaatnya mengkriminalisasi ulama. Saya sampaikan menjadi lebih maslahat dan manfaat agar pimpinan umat Islam diajak membangun negeri ini,” katanya pada Sabtu,(11/02).

Ia juga menyampaikan bahwa kontribusi ulama sangat besar bagi Indonesia. Bahkan menurutnya, merdekanya Indonesia tidak lepas dari peran ulama dan jihad. Sebagai contoh resolusi Jihad yang dideklarasikan oleh KH. Hasyim Asyari.

“Yang lain, Hasyim Asyari, beliau membuat satu resolusi. Resolusi jihad. Fatwa membebaskan Indonesia dari jajahan asing. Selamatlah Indonesia dengan resolusi jihad Hasyim Asyari,” tuturnya.

Selain itu, intimidasi dan pencegatan peserta aksi damai kerap dilakukan aparat. Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa tindakan itu tidak menghormati sejarah Indonesia. Pasalnya, umat Islam dicurigai dan dipersulit.

“Mau datang ke Istiqlal saja dicegat. Itu sama sekali bukan untuk menghadirkan kedamaian. Umat Islam Indonesia cinta kedamaian,” tegasnya.

“Semoga tidak ada kriminalisasi ulama. Dan kalau ada, semoga yang melakukan hal itu dibuka pintu hatinya,” tukasnya



Reporter: Taufiq Ishaq
Editor : Syafi’i Iskandar

Bongkar Strategy AHOK Dan Tim Soraknya

Ahok, Para 'Cheerleader': 'Kill the Messenger' dan 'Killing Himself'

Oleh: Abdullah Sammy

Kill the messenger (membunuh si pembawa pesan) sejatinya sebuah trik kuno. Jauh sebelum teknologi berkembang pesat, akses informasi hanya bisa didapat dari seorang pembawa pesan (messenger). Messenger kerap membawa pesan yang tidak ingin didengar si penerima. Saat seorang penguasa dan pendukungnya tak suka atau tak ingin mendengar pesan dari sang pembawa pesan, cara paling mudah adalah dengan membunuhnya.

Kill the messenger telah terjadi sejak abad pertama sebelum masehi. Kisahnya terjadi saat perseteruan antara Romawi dan Kerajaan Armenia. Adalah pembawa pesan dari pemimpin pasukan Romawi, Lucullus, yang mendatangi raja Armenia, Tigranes.

Pihak Romawi mengirim pesan lewat sang messenger yang menyatakan seruan agar Tigranes menyerahkan musuh Romawi yang mengungsi ke tanah Armenia. Karena tak suka dengan pesan itu, pasukan Tigranes lantas memenggal kepala sang messenger Romawi.

Di era saat ini, kill the messenger sudah menjadi frasa metafora. Tapi substansinya masih sama, yakni reaksi atas ketidaknyamanan dan ketidaksukaan atas sebuah informasi yang diucapkan oleh si pembawa informasi. Karena tidak suka dengan isi informasi, maka si pembawa informasi dihabisi.

Strategi kill the messenger sedang menjadi pembicaraan di dunia olahraga pekan ini. Ini bermula dari perseteruan antara bintang Cleveland Cavaliers, LeBron James dengan Charles Barkley. LeBron yang kini bermain untuk Cleveland Cavaliers berang dengan pernyataan legenda basket 1990-an yang kini menjadi analis di NBA TV itu.

Barkley mengkritisi sikap LeBron yang dinilai cengeng karena selalu menuntut tim untuk melayaninya. Ini tak terlepas ucapan LeBron yang menganggap timnya perlu tambahan seorang playmaker.

"Di atas itu, semua tindakan LeBron (meminta tim mendatangkan playmaker) adalah tidak pantas dan cengeng," ucap Barkley, seperti dilansir ESPN.

Kuping LeBron panas dengan ucapan legenda Phonix Suns tersebut. LeBron pun melakukan serangan balik pada Barkley.

"Saya bukan seorang yang pernah melempar seseorang dari jendela. Saya tak pernah meludahi anak kecil. Saya tak pernah berhutang di Las Vegas. Saya tak pernah bilang saya contoh, tapi saya pun tak pernah tak muncul di laga All Star karena sedang pesta sepanjang pekan di Vegas," ucap LeBron menyindir balik masa lalu Barkley.

Ucapan eks pemain Miami Heat memicu kontroversi publik. LeBron dinilai mencoba menghabisi karakter Barkley yang sejatinya menjalankan tugas sebagai seorang analis basket.

Bukan substansi kritik yang dijawab. LeBron malah coba mengaburkan isu dengan menghabisi karakter si pengkritik, Barkley.

Tapi Barkley cukup cerdas untuk merespons segala tudingan itu. "Saya tidak membawa persoalan ini menjadi personal dengannya. Dia masih kecil saat saya bermain. Jadi mungkin dia meng-google saya, dan saya apresiasi itu," balas Barkley saat diwawancara ESPN.

Barkley pun menilai segala tudingan persoalan masa lalu kepadanya tidaklah penting. Sebab persoalan yang terjadi masa kini adalah LeBron bukan lagi Barkley yang sudah pensiun.

"Jadi saat anda tak suka dengan sebuah pesan maka yang anda lakukan adalah membunuh si pembawa pesan (kill the messenger)," kata Barkey.

Dia melanjutkan perkataannya, "Beberapa yang LeBron sampaikan terkait (masa lalu) saya ada benarnya, tapi itu tak membuat pesan yang saya sampaikan (saat ini) menjadi salah," kata Barkley tegas.

Perkataan Barkley itu merupakan jawaban telak atas strategi kill the messenger yang dimainkan LeBron. Strategi yang sejatinya sering dimainkan oleh politikus ketimbang olahragawan.


Dan di dunia politik di Indonesia, strategi kill the messenger kini menjadi senjata bagi pihak-pihak yang tidak bisa mengelak dari kritik. Karena tak bisa menjawab kritik, maka yang dibunuh adalah si penyampai kritik.

Dalam kontentasi politik di Indonesia yang begitu dinamis, kill the messenger jamak dilakukan sebagai strategi counter-attack. Terlebih sekarang adalah eranya sewa menyewa konsultan di sosial media, bahasa kerennya buzzer.

Ya, tak hanya bertahan untuk mengelak dari kritikan yang tak bisa dijawab, tapi kill the messenger juga dilakukan para buzzer untuk menghancurkan lawan. Konon, bayaran buzzer untuk menghancurkan lawan lebih besar ketimbang bayaran untuk pencitraan positif sang klien.

Saya ingin merujuk strategi kill the messenger yang kerap ditujukan pada pihak-pihak yang selama ini mengkritisi atau berseberangan dengan penguasa.

Pihak yang mengkritisi atau mengambil posisi berseberangan dengan penguasa memang kerap mendapat serangan. Sayangnya, sayangnya tak melulu serangan balik itu terkait substansi untuk menjawab kritikan si pengkritik. Tapi melebar ke personal kritikus.

Salah satu contohnya menimpa akademisi UI, Rocky Gerung. Rocky yang kerap melontarkan kritik pada pemerintah jadi sasaran serangan balik. Sejumlah tudingan personal mampir kepada Dosen Filsafat UI itu.

Ini seperti tudingan dia dekat dengan kalangan politik tertentu. Tapi, tak ada yang berani menjawab substansi kritikan dari pengajar filsafat politik Universitas Indonesia itu.

Ini seperti kritikan terbaru Rocky soal yang menyebut penguasa adalah pembuat hoax terbaik. Pernyataan yang membuat merah para penjilat kekuasaan.

Pernyataan Rocky ini sejatinya didukung fakta soal hoax yang ditebar para penguasa setiap lima tahun sekali dalam pemilu. Jika rakyat bisa dituntut menyebar hoax, maka mengapa pemimpin yang berjanji tidak akan bagi-bagi jabatan saat kampanye itu tak juga terjerat kasus hoax?

Substansi kritik tajam itulah yang membuat pihak-pihak yang tak senang melancarkan strategi kill the messenger. Cara paling mudahnya adalah dengan menyebar kabar terkait persona sang tokoh.

Terkait Rocky, dia dituding merupakan pengamat yang merapat ke salah satu poros kekuasaan. Saya pribadi tidak tahu apakah tudingan itu betul atau murni fitnah. Tapi satu hal yang jelas, tudingan tak menggugurkan bobot kritik Rocky yang hingga kini tak bisa dijawab oleh penguasa atau para 'cheerleadernya'.

Strategi kill the messenger juga dilakukan para pendukung Ahok yang kerap membully lawan politiknya di Twitter. Strategi ini juga menjadi senjata untuk meredam gugatan kelompok massa dalam kasus penistaan agama yang menjerat Ahok.

Ini seperti saat awal terjadinya demonstrasi pada akhir Oktober 2016. Strategi kill the messenger yang dilakukan Ahooker adalah dengan memotret segelintir massa yang beraksi dengan menginjak rumput kala itu. Meski tak terverifikasi apakah itu sekadar settingan, cara itu coba menghancurkan simpati publik pada peserta aksi.

Namun sayangnya, aksi ini bisa dilawan balik oleh kubu anti-Ahok yang menunjukkan sejumlah bukti bahwa tanaman yang rusak hanya sebatas settingan. Malah simpati pada aksi semakin besar dengan munculnya aksi bela Islam 4 November 2016 (411).

Kubu pro Ahok tak tinggal diam. Mereka balas merespons aksi 411 itu dengan melabeli gerakan itu anti-Bineka. Kembali strategi kill the messenger untuk memadamkan gejolak. Tapi lagi-lagi strategi para buzzer itu hanya gaduh di sosial media tanpa efek di dunia nyata.

Sebab buktinya rancangan aksi tandingan yang mereka lakukan hanya dihadiri massa dengan jumlah yang begitu minim.

Malah aksi ketiga massa anti-Ahok makin besar yakin pada 2 Desember 2016 (212). Namun kali ini, para buzzer masih belum kapok. Mereka menggunakan usaha kill the messenger dengan mengaitkan 212 dengan sejumlah aktivis yang ditangkap. Mereka mengaitkan aksi makar guna 'membunuh pesan' dari 212.

Strategi kill the messenger juga dilakukan Ahok dan kubunya dalam sidang. Caranya adalah dengan menghabisi persona saksi atau pelapor dalam sidang kasus penistaan agama. Korban utamanya adalah Novel Bamukmin yang dibully habis usai insiden di BAP-nya yang menyebut kata 'fitsa hats'.

Strategi berhasil dengan manis. Ahok di atas angin, sementara saksi habis dibully habis-habisan. Saksi lain, Irene Handono pun juga tak ketinggalan coba dihabisi karakternya. Dia dituding berbohong soal riwayat pendidikan. "Ketika saya di pengadilan, duduk sebagai saksi hampir lima jam, yang ditanyakan penasihat hukum Ahok menyimpang dari persoalan penodaan agama. Dan cenderung pembunuhan karakter," ujar Irene, Kamis (2/2).

Benar atau tidak tudingan itu tidaklah penting. Yang penting si pembawa pesan terbunuh karakternya. Sedangkan pesan yang coba disampaikan terkait substansi kasus jadi kabur.

Irene bukan orang terakhir. Ketua MUI dan juga Rois Aam NU, Ma'ruf Amin menjadi saksi lain yang coba 'dihabisi' oleh kubu Ahok. Berbagai serangan personal dilakukan. Mulai dari tudingan menutupi riwayat, merapat ke salah satu kandidat, hingga yang paling utama telepon antara sang Rois Aam PBNU itu dengan SBY menyangkut order fatwa.

Usai sidang strategi membunuh karakter Kiai Ma'ruf terus dilancarkan. Sejumlah Ahooker di sosial media tak ragu menghujat kiai Ma'ruf. Seperti Denny Siregar yang menyebut Kiai Ma'ruf menjual agama demi dunia. Strategi kill the messenger terhadap kiai Ma'ruf terlihat begitu rapih.

Hingga malam usai sidang, yakni Selasa (31/1) sekitar pukul 24.00 WIB, lini masa di sosial media masih banyak yang menyerang Kiai Ma'ruf.

Namun para buzzer hingga cheerleader itu tak sadar bahwa yang dia coba hancurkan karakternya itu adalah seorang ulama karismatik. Saya pribadi percaya para ulama punya keistimewaan dan kemuliaannya tersendiri.

Direndahkan, derajat sang ulama malah akan semakin tinggi. Sekalipun pelaku yang coba menyerang punya banyak kuasa, tapi bisa hancur begitu saja bila yang dihadapi ulama. Ini terjadi dalam usaha kill the messenger terkait Kiai Ma'ruf.

Hingga akhirnya arus perlawanan bak tsunami datang menghantam para pembully sang kiai. Dia yang coba melecehkan kiai Ma'ruf di dalam sidang atau di media sosial kini tunggang-langgang.

Ini setelah umat utamanya NU merapatkan barisan demi membela sang kiai karismatik. Sehari usai sidang, atau Rabu (1/2) bola berbalik arah. Ahok, kuasa hukum, hingga pendukungnya di sosial media buru-buru 'menjilat ludah'.

Ahok meminta maaf. Sang kuasa hukum sibuk merevisi perkataannya di media. Sedangkan buzzer-buzzer sibuk mengapus unggahannya.

Tapi semua sudah terlambat. Massa sudah lanjur marah. Terlebih ini bukan usaha pertama yang dilakukan untuk menyerang kiai Ma'ruf. Sebelumnya, kiai Ma'ruf juga pernah diserang dengan sebaran foto antara dia dengan seorang wanita. Serangan itu datang beberapa saat setelah MUI mengeluarkan fatwa terkait Ahok.

Serangan dilakukan aktivis Twitter pro Ahok bernama Mas Teddy Bayupatti. Dalam foto yang dia unggah, 'selebtweet' pro Ahok ini malah menggunakan kata-kata yang kurang sopan kepada Kiai Maruf.

"Hebat nih Pak Maruf Amin Umur 73 tahun k***y sama wanita muda umur 30 tahun," ujarnya yang menanggapi salah satu berita media online dan menampilkan foto Ma'ruf Amin dan istrinya di laman Twitter.

Usaha itu pun tak manjur. Sebab kemuliaan kiai terlalu tinggi untuk sekadar dinodai para buzzer. Sebab emas tetaplah emas sekalipun coba dimasukkan ke dalam kubangan. Sedangkan bangkai tetaplah busuk sekalipun ditutupi permadani.

Walhasil kini strategi kill the messenger malah berubah menjadi killing himself alias bunuh diri.